Senin, 05 Maret 2012

Penyakit Amandel


Penyebab, Gejala dan Pencegahan Amandel (radang)
Posted date : August 05, 2009
Beberapa tahun yang lalu operasi banyak digunakan sebagai solusi radang amandel. Tonsilitis adalah peradangan pada amandel disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri. Peran amandel adalah sebagai penyaring atau fileter bakteri dan virus yang dapat menyebabkan terjadinya infeksi yang lebih berbahaya. Tindakan operasi sudah jarang dilakukan, kecuali bila peradangan sering sekali terjadi atau bila peradangan tersebut menyebabkan kesulitan untuk bernapas dan menelan.
Gejala radang amandel cukup mudah dikenali, yaitu adanya 5 tanda yaitu : kalor, dolor, rubor, tumor, dan fungsiolaseayang detailnya dapat dilihat disini.
Secara sederhana gejala ini dapat meliputi :
  1. Tenggorokan sakit
  2. Sulit atau sakit saat menelan
  3. Sakit kepala
  4. Demam dan kedinginan
  5. Pembesaran, pembengkakan kelenjar (kelenjar getah bening) disekitar rahang dan leher.
  6. Kehilangan suara
Penyebab radang amandel
Saat bakteri dan virus memasuki tubuh melalui hidung atau mulut anda, amandel berperan sebagai filter—menyelimuti organisme yang berbahaya tersebut dengan sel-sel darah putih. Ini akan menyebabkan infeksi ringan pada amandel anda, yang akan memicu sistem kekebalan tubuh untuk membentuk antibodi terhadap infeksi dimasa yang akan datang. Akan tetapi, kadang-kadang amandel sudah kewalahan menahan infeksi bakteri atau virus. Inilah yang menyebabkan terjadinya tonsilitis.
Ada berbagai macam virus dan bakteri yang dapat menyebabkan terjadinya radang amandel, termasuk virus yang menyebabkan mononucleosis (virus Epstein-Barr) dan bakteri yang menyebabkan terjadinya radang tenggorokan (Streptococcus pyogenes).
Apakah radang amandel dapat menular?
Ya, virus dan bakteri cenderung untuk berkembang pada orang-orang yang berhubungan dekat satu sama lain. Pada anak-anak dapat terjadi seperti di sekolah atau di fasilitas penitipan anak.
r7_tonsillitis2
Pemeriksaan dan diagnosis dokter
Dokter akan memeriksa amandel dan bagian belakang tenggorokan anda untuk melihat adanya tanda-tanda infeksi, seperti adanya warna kemerahan atau nanah. Bila amandel anda kelihatan mengalami infeksi dan anda mengalami tanda-tanda dan gejala lain yang mengarah pada radang tenggorokan, anda akan menjalani uji usap tenggorokan. Dengan tes yang sederhana ini, dokter akan mengusapkan semacam kasa steril pada bagian belakang tenggorokan anda untuk mendapatkan sampel air liur. Tes ini tidak menyakitkan, tapi dapat menyebabkan anda sedikit tercekat.
Sampel yang telah diambil akan diperiksa di dalam lab untuk melihat ada tidaknya bakteri streptokokus. Hasil tes dapat dilihat dalam hitungan menit atau jam, bergantung pada metode pengujian yang digunakan. Bila tes ini menunjukkan hasil yang positif, anda perlu minum antibiotik untuk mengobati infeksi yang anda alami.
Pencegahan radang amandel
Sering cuci tangan adalah cara terbaik untuk mencegah terjadinya berbagai jenis infeksi, termasuk juga tonsilitis. Seringlah cuci tangan anda, dan beri dorongan pada anak-anak anda untuk melakukan hal yang sama.
Bila anda menggunakan sabun dan air:
  1. Basahi tangan anda dengan air hangat yang mengalir dan gunakan sabun cair atau sabun batangan yang bersih.  Gosok hingga berbusa.
  2. Gosok dengan kuat selama setidaknya 15 detik. Ajarkan pada anak-anak anda untuk mencuci tangannya selama mereka menyanyi lagu ABS, “Row, Row, Row Your Boat” atau “Selamat ulang tahun” hingga selesai.
  3. Gosok semua permukaan tangan, termasuk bagian belakang tangan, pergelangan tangan, diantara jari-jari dan dibawah kuku jari anda.
  4. Bilas dengan bersih.
  5. Keringkan tangan dengan menggunakan handuk yang bersih.
  6. Gunakan handuk tersebut untuk mematikan keran air.
Bila sabun dan air tidak tersedia, gunakan pembersih tangan yang berbahan dasar alkohol. Tuang sekitar ½ sendok teh bahan pembersih tersebut ke tangan anda. Gosok-gosok kedua tangan anda, sehingga cairan pembersih tersebut melumuri permukaan tangan anda, hingga cairan tersebut kering.
Pencegahan lain yang menggunakan logika juga dapat digunakan. Pada saat batuk atau bersin gunakan tisu atau lengan anda. Jangan menggunakan gelas minum dan peralatan makan untuk bersama-sama. Hindari berada dekat dengan orang yang sedang sakit. Cari tempat penitipan anak yang mempraktekkan kebijakan soal kebersihan dan meminta agar anak-anak yang sakit tetap berada di rumah.
obat amandel tradisional
Posted date : August 13, 2011
Obat tradisional telah banyak digunakan untuk mengatasi radang amandel. Amandel sendiri merupakan penyakit radang tenggorokan yang banyak menyerang anak-anak. Umumnya gejalanya akan disertai demam. Radang amandel sendiri sebenarnya tidak berbahaya, karena merupakan reaksi normal tubuh dalam meningkatkan sistem imun ketika diserang kuman maupun bibit penyakit.
Mengatasi radang amandel, sebenarnya bisa dilakukan dengan mandiri. Ada tiga resep ramuanobat amandel tradisional yang bisa dimanfaatkan :
Resep Obat Tradisional “kunyit jeruk”
Bahan : 1 rimpang kunyit, 1 butir jeruk nipis, 2 sendok madu
Cara membuat : Kunyit diparut, lalu jeruk diperas untuk diambil airnya, kemudian dicampur dengan madu dan 100ml air hangat, diaduk hingga merata dan disaring
Cara mengkonsumsi : diminum secara rutin 2 hari sekali.
http://obatamandel.com/wp-content/uploads/2011/08/batuk-pagi-234x300.jpg
Resep Obat Tradisional “pace kunyit”
Bahan : 2 buah mengkudu/pace matang + 20 gram kunyit
Cara membuat : bahan dicuci dan dihaluskan, disaring dan diambil airnya, tambahkan air perasan 1 buah jeruk nipis, dan 1 sendok makan madu, diaduk, lalu diminum.
Cara mengkonsumsi : Lakukan 2-3 kali sehari.
Resep Obat Tradisional “benalu teh – sambiloto kunyit”
Bahan : 30 gram benalu teh + 30 gram temu putih + 10 gram sambiloto kering + 20 gram kunyit
Cara membuat : direbus dengan 800 cc air hingga tersisa 400 cc, disaring, airnya diminum
Cara mengkonsumsi : dua kali sehari, setiap kali minum 200 cc.
Radang amandel menyebabkan amandel membengkak dan merah serta gatal, sakit pada kerongkongan, sakit saat menelan, muntah, demam, sakit kepala, sakit perut, lemas, dan tidak bersemangat. Jika pembengkakan amandel sudah terlalu besar, akan menyatu dan dapat menghalangi jalan pernapasan. Ramuan diatas merupakan obat tradisional amandel untuk anak dan dewasa.
Semoga ramuan obat tradisional amandel diatas dapat membantu meredakan radang amandel yang membandel.

Dajjal


Bab 01. ARTI DAJJAL DAN YA'JUJ WA-MA'JUJ

Dajjal disebutkan berulang-ulang dalam Hadits, sedangkan Ya'juj wa-Ma'juj bukan saja disebutkan dalam Hadits, melainkan pula dalam Al-Qur'an. Dan kemunculannya yang kedua kalinya ini dihubungkan dengan turunnya Al-Masih.
Kata Dajjal berasal dari kata dajala, artinya, menutupi (sesuatu). Kamus Lisanul-'Arab mengemukakan beberapa pendapat mengapa disebut Dajjal. Menurut suatu pendapat, ia disebut Dajjal kerana ia adalah pembohong yang menutupi kebenaran dengan kepalsuan. Pendapat lainnya mengatakan, kerana ia menutupi bumi dengan bilangannya yang besar. Pendapat ketiga mengatakan, kerana ia menutupi manusia dengan kekafiran. Keempat, kerana ia tersebar dan menutupi seluruh muka bumi.
Pendapat lain mengatakan, bahawa Dajjal itu bangsa yang menyebarkan barang dagangannya ke seluruh dunia, artinya, menutupi dunia dengan barang dagangannya. Ada juga pendapat yang mengatakan, bahawa ia dijuluki Dajjal kerana mengatakan hal-hal yang bertentangan dengan hatinya, ertinya, ia menutupi maksud yang sebenarnya dengan kata-kata palsu.
Kata Ya'juj dan Ma juj berasal dari kata ajja atau ajij dalam wazan Yaf'ul; kata ajij artinya nyala api. Tetapi kata ajja bererti pula asra'a, maknanya berjalan cepat. Itulah makna yang tertera dalam kamus Lisanul-'Arab. Ya'juj wa-Ma'juj dapat pula diibaratkan sebagai api menyala dan air bergelombang, kerana hebatnya gerakan.

Selasa, 21 Februari 2012

Rasa cinta yang hakiki


Cinta kepada Allah
Cinta kepada Allah ini adalah perkara yang paling tinggi sekali dan itulah tujuan kita yang terakhir. Kita telah bercakap berkenaan bahaya kerohanian yang akan menghalang cinta kepada Allah dalam hati manusia, dan kita telah bercakap berkenaan berbagai sifat-sifat yang baik sebagai keperluan asas menuju Cinta Allah itu.
Kesempurnaan manusia itu terletak dalam Cinta kepada Allah ini. Cinta kepada Allah ini hendaklah menakluki dan menguasai hati manusia itu seluruhnya. Kalau pun tidak dapat seluruhnya, maka sekurang-kurangnya hati itu hendaklah cinta kepada Allah melebihi cinta kepada yang lain.

Sebenarnya mengetahui Cinta Ilahi ini bukanlah satu perkara yang senang sehingga ada satu golongan orang bijak pandai ugama yang langsung menafikan cinta kepada Allah atau Cinta Ilahi itu. Mereka tidak percaya manusia boleh Mencintai Allah Subhanahuwa Taala kerana Allah itu bukanlah sejenis dengan manusia. Kata mereka; maksud Cinta Ilahi itu adalah semata-mata tunduk dan patuh kepada Allah sahaja.
Sebenarnya mereka yang berpendapat demikian itu adalah orang yang tidak tahu apakah hakikatnya ugama itu.

Semua orang Islam bersetuju bahawa cinta kepada Allah (cinta Allah) itu adalah satu tugas. Allah ada berfirman berkenaan dengan orang-orang mukmin;
"Allah Cinta kepada mereka dan mereka Cinta kepada Allah".
Nabi pernah bersabda;
"Belum sempurna imam seseorang itu hingga ia Mencintai Allah dan Rasulnya lebih daripada yang lain".
Apabila malaikat maut datang hendak mengambil nyawa Nabi Ibrahim, Nabi Ibrahim berkata, "Pernahkah engkau melihat sahabat mengambil nyawa sahabat?" Allah berfirman, "Pernahkah engkau melihat sahabat tidak mahu melihat sahabatnya?" Kemudian Nabi Ibrahim berkata, "Wahai Izrail! Ambillah nyawaku!"

Doa ini diajar oleh Nabi kepada sahabatnya;
"Ya Allah, kurniakanlah kepada ku Cinta terhadap Mu dan Cinta kepada mereka yang Mencintai mu, dan apa saja yang membawa aku hampir kepada CintaMu, dan jadikanlah CintaMu itu lebih berharga kepadaku dari air sejuk kepada orang yang dahaga."
Hasan Basri ada berkata;
"Orang yang kenal Allah akan Mencintai Allah, dan orang yang mengenal dunia akan benci kepada dunia itu".
Sekarang marilah kita bincangkan pula berkenaan keadaan cinta itu. Bolehlah ditaarifkan bahawa cinta itu adalah kecenderungan kepada sesuatu yang seronok atau nyaman. Ini nyata sekali pada dari yang lima (pancaindera) iaitu tiap-tiap satunya mencintai apa yang memberi keseronakkan atau kepuasan kepadanya. Mata cinta kepada bentuk-bentuk yang indah. Telinga cinta kepada bunyi-bunyinya yang merdu, dan sebagainya. Inilah jenis cinta yang kita ada dan binatang pun ada.

Tetapi ada dari yang keenam atau keupayaan pandangan yang terletak dalam hati, dan ini tidak ada pada binatang. Dengan melalui inilah kita mengenal keindahan dan keagungan keruhanian. Oleh itu, mereka yang terpengaruh dengan kehendak-kehendak jasmaniah dan kedunian saja tidak dapat mengerti apa yang dimaksudkan oleh Nabi apabila baginda berkata bahawa baginda cinta kepada sembahyang melebihi dari cintanya kepada perempuan dan bau harum wangi, meskipun perempuan dan wangi-wanginya itu disukai juga oleh baginda. Tetapi siapa yang mata batinnya terbuka untuk melihat keindahan dan kesempurnaan Ilahi akan memandang rendah kepada semua perkara-perkara yang zhohir walau bagaimanapun cantiknya sekalipun.

Orang yang memandang zhohir saja akan berkata bahawa kecantikan itu terletak pada warna kulit yang putih dan merah, kaki dan tangan yang eloknya dan lawa bentuknya dan sebagainya lagi, tetapi orang ini buta kepada kecantikan akhlak, seperi apa yang dikatakan orang bahawa seseorang itu mempunyai sifat-sifat akhlak yang "indah". Tetapi bagi mereka yang mempunyai pandangan batin dapat mencintai orang-orang besar yang telah kembali kealam baka, seperti Khalifah Umar dan Abu Bakar misalnya, kerana kedua-dua orang besar ini mempunyai sifat-sifat yang agong dan mulia, meskipun badan mereka telah hancur menjadi tanah. Cinta seperti ini bukan memandang kepada sifat-sifat zhohir sahaja, tetapi memandang kepada sifat-sifat batin. Bahkan apabila kita hendak menimbulkan cinta dalam hati kanak-kanak terhadap seseorang, maka kita tidak memperihalkan keindahan bentuk zhohirnya, dan lain-lain, tetapi kita perihalkan keindahan-keindahan batinnya.

Apabila kita gunakan perinsip ini terhadap cinta kepada Allah, maka kita akan dapati bahawa Dia sajalah sepatutnya kita Cinta. Mereka yang tidak Mencintai Allah itu ialah kerana mereka tidak Mengenal Allah itu. Apa sahaja yang kita cinta kepada seseorang itu, kita cintai kerana itu adalah bayangan Allah. Kerana inilah kita cinta kepada Muhammad S.A.W kerana baginda adalah Rasul dan kekasih Allah; dan cinta kepada orang-orang alim dan orang-orang warak itu adalah sebenarnya cinta kepada Allah.

Kita akan lihat ini lebih jelas jika kita perhatikan apakah sebab-sebabnya yang menyemarakkan cinta.
Sebab pertama ialah, bahawa seseorang itu cinta kepada dirinya sendiri dan menyempurnakan keadaannya sendiri. Ini membawanya secara langsung menuju Cinta kepada Allah, kerana wujudnya dan sifatnya manusia itu adalah semata-mata Kurniaan Allah sahaja. Jika tidaklah kerana kehendak Allah Subhanahuwa Taala dan KemurahanNya, manusia tidak akan zhohir ke alam nyata itu. Kejadian manusia itu dan pencapaian menuju kesempurnaan adalah juga dengan kurnian Allah semata-mata. Sungguh anih jika seseorang itu berlindung ke bawah pokok dari sinaran matahari tetapi tidak berterima kasih kepada pokok itu. Begitu jugalah jika tidaklah kerana Allah, manusia tidak akan wujud dan tidak akan ada mempunyai sifat-sifat langsung. Oleh itu, kenapa manusia itu tidak Cinta kepada Allah? Jika tidak cinta kepada Allah bererti ia tidak mengenalNya. Tanpa mengenalNya orang tidak akan Cinta kepadaNya, kerana Cinta itu timbul dari pengenalan . Orang yang bodoh saja yang tidak mengenal.

Sebab yang kedua ialah, bahawa manusia itu cinta kepada orang yang menolong dan memberi kurniaan kepada dirinya. Pada hakikatnya yang memberi pertolongan dan kurniaan itu hanya Allah sahaja. Sebenarnya apa sahaja pertolongan dan kurnian dari makhluk atau hamba itu adalah dorongan dari Allah Subhanahuwaa Taala jua. Apa sahaja niat hati untuk membuat kebaikan kepada orang lain, sama ada keinginan untuk maju dalam bidang ugama atau untuk mendapatkan nama yang baik; maka Allah itulah pendorong yang menimbulkan niat, keinginan dan usaha untuk mencapai apa yang dicinta itu.

Sebab yang ketiga ialah cinta ang ditimbulkan dengan cara renungan atau tafakur tentang Sifat-sifat Allah, Kuasa dan KebijaksanaanNya. Dan bermula Kekuasaan dan kebijaksanaan manusia itu adalah bayangan yang amat kecil dari Kekuasaan dan Kebijaksanaan Allah Subhanahuwa Taala jua. Cinta ini adalah seperti cinta yang kita rasai terhadap orang-orang besar di zaman lampau, umpama Imam Malik dan Imam Syafie meskipun kita tidak akan menjangka menerima sebarang faedah peribadi dari mereka itu, dan dengan itu adalah jenis yang tidak mencari untung. Allah berfirman kepada Nabi Da
ud,

"Hamba yang paling aku Cintai ialah mereka yang mencari Aku bukan kerana takut hukumKu atau hendakkan KurniaanKu, tetapi adalah semata-mata kerana Aku ini Tuhan."
Dalam kitab Zabur ada tertulis,
"Siapakah yang lebih melanggar batas daripada orang yang menyembahKu kerana takutkan Neraka atau berkehendakkan Syurga? Jika tidak aku jadikan Surga dan Neraka itu tidakkah Aku ini patut disembah?"
Sebab yang keempat berkenaan cinta ini ialah kerana perkaitan rapat antara manusia dan Tuhan, yang maksudkan oleh Nabi dalam sabdanya;

"Sesungguhnya Allah jadikan manusia menurut bayanganNya"
Selanjutnya Allah berfirman;
"HambaKu mencari kehampiran denganKu, supaya Aku jadikan dia kawanKu, dan bila Aku jadikan ia kawanku, jadilah Aku telinganya, matanya dan lidahnya".
Allah berfirman juga kepada Nabi Musa;
"Aku sakit, engkau tidak mengungjungiKu." Nabi Musa menjawab, "Aahai Tuhan, Engkau itu Tuhan langit dan bumi, bagaimana engkau boleh sakit?" Allah menjawab, "Seorang hambaKu sakit, kalau engkau mengunjungi dia, maka engkau mengunjungi Aku."

Ini adalah satu perkara yang agak bahaya hendak dikaji berlarutan kerana ia tidak terjangkau oleh pengetahuan orang awam, bahkan yang bijak pandai pun mungkin tumbang dalam perjalanan perkara ini, lalu menganggap ada percantuman atau penjelmaan Tuhan dalam manusia. Tambahan pula perkara kehampiran hamba dengan Tuhan ini dibangkang oleh Alim Ulama' yang tersebut diatas dulu kerana mereka berpendapat bahawa manusia itu tidak dapat mencintai Allah oleh sebab Allah bukan sejenis manusia. Walau pun berapa jauh jaraknya antara mereka, namun manusia boleh mencintai Allah kerana kehampiran itu ada ditunjukkan oleh sabda Nabi

"Allah jadikan manusia menurut rupanya."


Dan kataku pula(suluk), untuk mendapat dan menjejaki maksud sabda Nabi yang penuh dan melimpah dengan lautan hikmah zhohir dan batin ini, perlulah diambil pengajaran dari kalangan ulama yang muqarrabin yang arifbiLlah dari kalangan Aulia Allah yang apabila bercakap, hanya akan mengungkapkan sesuatu yang didatangi dari Alam Tinggi; bukan beralaskan sesuatu kepentingan atau pengaruh hawa nafsunya. Ilmu mereka adalah pencampakkan Ilham dari Allah Taala yang didapati terus dari Allah sebagaimana yang telah ditegaskan oleh Imam Ghazali dalam karyanya Al-Risalutu lid Duniyah sebagaimana berikut;

Ilham adalah kesan Wahyu. Wahyu adalah penerangan Urusan Ghoibi (ghaib) manakala Ilham ialah pemaparannya. Ilmu yang didapati menerusi Ilham dinamakan Ilmu Laduni.
Ilmu Laduni ialah ilmu yang tidak ada perantaraan dalam mendapatkannya di antara jiwa dan Allah Taala. Ia adalah seperti cahaya yang datang dari lampu Qhaib jatuh ke atas Qalbu yang bersih, kosong lagi halus(Lathif).

indahnya memandang Allah swt

Memandang Allah

Semua orang Islam percaya bahawa memandang Allah itu adalah puncak segala kebahagiaan kerana ada tercatit dalam hukum. Tetapi bagi kebanyakan orang, ini adalah cakap di mulut sahaja yang tidak menimbulkan rasa dalam hati. Sememangnyalah begitu kerana bagaimana orang dapat menyintai sesuatu jika ia tidak tahu dan tidak kenal? Kita akan cuba menunjukkan secara ringkas bagaimana memandang Allah itu puncak segala kebahagiaan yang boleh tercapai oleh manusia.

Pertama, tiap-tiap bakat atau anggota manusia itu ada tugas-tugasnya masing-masing dan ia berasa seronok dan suka menjalankan tugas itu. Ini serupa sahaja sejak dari kehendak badan yang paling rendah hinggalah kepada pengetahuan akal yang paling tinggi. Usaha mental(otak) yang paling rendah pun mendatangkan keseronokkan yang lebih dari hanya memuaskan kehendak badan sahaja. Kadang-kadang seseorang yang khusuk bermain catur tidak mahu makan meskipun ia berkali-kali dipanggil untuk makan.

Makin tinggi perkara pengetahuan kita itu, maka makin bertambah seronok dan sukalah kita mengusahakan perkara itu. Misalnya kita lebih berminat untuk mengetahui rahsia Sultan dan rahsia menteri. Dengan demikian, oleh kerana Allah itu adalah objek atau perkara pengetahuan yang paling tinggi, maka mengenal atau mengetahui Allah itu mestilah memberi kebahagiaan dan kelazatan lebih daripada yang lain-lain. Orang yang mengetahui dan mengenal Allah walaupun dalam dunia ini. seolah-olah di dalam syurga, "luasnya seperti luas langit" (Al-Qur'an) buah-buahan bebas untuk dipetik, dalam lebarnya tidak disempitkan oleh penghuninya yang ramai itu.

Tetapi kenikmatan ilmu atau pengetahuan masih tidak menyamai atau menyerupai kenikmatan pandangan sebagaimana keseronokkan kita dalam memikirkan mereka yang bercinta adalah lebih rendah daripada keseronokan yang diberi oleh memandangnya dengan benar. Terpenjaranya kita dalam badan kita dari tanah dan air dan terbelenggu kita dalam perkara-perkara deria(pancaindera) menjadikan hijab yang melindungi kita daripada memandang Allah,. meskipun tidak menghalang pencapaian kita kepada mengetahui dan mengenalNya. Kerana inilah Allah berfirman kepada Nabi Musa di Gunung Sinai;

"Engkau tidak akan dapat melihat aku" (al-Qur'an)
Hakikat perkara ini adalah demikian, iaitu sebagaimana benih manusia itu menjadi manusia, dan biji tamar menjadi pokok tamar, begitu jugalah mengenal Allah yang diperolehi di dunia ini akan bertukar menjadi "Memandang Allah" di akhirat kelak, dan mereka yang tidak mempelajari pengetahuan itu tidak akan mendapat pandangan itu. Pandangan ini tidak akan dibahagi-bahagikan sama rata kepada mereka yang tahu tetapi "konsep pemahaman" mereka tentangnya akan berbeza-beza sebagaimana ilmu mereka.

Allah itu Satu tetapi ia kelihatan dengan berbagai-bagai cara, sebagaimana satu benda itu terbayang dalam berbagai cara dalam berbagai cermin. Ada yang lurus, ada yang bengkok, ada yang terang dan ada yang gelap. Sesuatu cermin itu mungkin terlalu bengkok dan ini menjadikan bentuk-bentuk yang cantik kelihatan buruk dalam cermin itu. Seseorang manusia itu mungkin membawa ke akhirat hati yang gelap dan bengkok, dan dengan itu pandangan yang menjadi punca kedamaian dan kebahagiaan kepada orang lain, akan menjadi sumber kesengsaraan dan kedukaan kepadanya.

Orang yang Menyintai Allah sepenuh hati dan Cintanya kepada Allah melebihi Cintanya kepada yang lain akan memperolehi lebih banyak kebahagiaan daripada pandangan melebihi daripada mereka yang dalam hatinya tidak ada pandagan ini. Umpama dua orang yang kekuatan matanya sama sahaja memandang kepada muka yang cantik. Orang yang telah ada cintanya kepada orang yang memiliki muka itu akan merasa seronok dan bahagia memandang muka itu melebihi dari orang yang tidak ada cintanya kepada orang yang mempunyai muka itu. Untuk kebahagiaan yang sempurna, ilmu sahaja tidak tidaklah cukup. Ianya hendaklah disertakan dengan Cinta. Cinta kepada Allah itu tidak akan tercapai selagi hati itu tidak dibersihkan daripada cinta kepada dunia. Pembersihan ini dapat dilakukan dengan menahan diri dari hawa nafsu yang rendah dan bersikap zuhud.

Semasa dalam dunia ini, keadaan seseorang itu terhadap "Memandang Allah" adalah ibarat orang yang cinta yang melihat muka orang yang yang dicintai dalam waktu senjakala dan pakaiannya penuh dengan penyengat dan kala yang sentiasa menggigitnya. Tetapi sekiranya matahari terbit dan menunjukkan muka yang dicintai dengan segala keindahannya, dan penyengat serta kala itu telah lari darinya, maka kebahagiaan orang yang cinta itu adalah seperti hamba Allah yang terlepas dari gelap senja dan azab cubaan di dunia ini, lalu melihat dia tanpa hijab lagi.

Abu Sulaiman berkata;
"Siapa yang sibuk dengan dirinya sendiri sahaja di dunia ini, akan sibuk juga dengan dirinya di akhirat kelak; dan siapa yang sibuk dengan Allah di dunia ini akan sibuk juga dengan Allah di akhirat kelak".
Yahya bin Mu'adz menceritakan;
"Saya lihat Abu Yazid Bustomin sembahyang sepanjang malam. apabila beliau telah habis sembahyang, beliau berdoa dan berkata; "Oh Tuhan!!! Setengah dari hambaMu meminta padaMu kuasa untuk membuat sesuatu yang luar biasa(karamat) seperti berjalan di atas air, terbang di udara; tetapi aku tidak meminta itu; ada pula yang meminta harta karun, tetapi aku tidak meminta itu; kemudian ia memalingkan mukanya dan setelah dilihatnya saya, ia berkata; "Kamu di situ Yahya?" Saya menjawab; "Ya!" Beliau bertanya lagi; "Sejak bila?" Saya menjawab; "Telah lama saya di sini" Kemudian saya bertanya dan beliau menceritakan kepada saya setengah daripada pengalaman keruhaniannya.

"Saya akan menceritakan" Jawab beliau. "Apa yang boleh saya ceritakan kepadamu, Allah Subhahahuwa Taala menunjukkan aku kerajaanNya dari yang paling tinggi hingga ke paling rendah. DiangkatNya saya melampaui Arash dan Kursi dan tujuh petala langitnya, kemudian Ia(Allah) berkata; "Pintalah kepadaKu apa sahaja yang engkau kehendaki". Saya menjawab; "Ya Allah!!! tidak akan saya minta apa pun melainkan Engkau". JawabNya(Allah); "Sesungguhnya engkau hambaKu yang sebenar".

Pada suatu ketika pula Abu Yazid berkata;
"Sekiranya Allah mengurniakan engkau kehampiran denganNya seperti Ibrahim, kekuasaan Sholat Musa, keruhanian 'Isa, namun wajahmu hadapkanlah kepada Dia sahaja kerana ia ada harta yang melampaui segala-galanya itu"
Suatu hari seorang sahabatnya berkata kepada beliau; "Selama tiga puluh tahun saya puasa di siang hari dan sembahyang di malam hari tetapi saya tidak dapati kelazatan keruhanian yang engkau katakan itu".

Abu Yazid menjawab; "Jika engkau puasa dan sembahyang selama tiga ratus tahun pun, engkau tidak akan mendapatkannya".
Sahabatnya berkata; "Bagaimanakah itu?"
Kata Abu Yazid; "Ubatnya ada tetapi engkau tidak akan sanggup menelannya ubat itu". Tetapi oleh kerana sahabatnya itu bersungguh-sungguh benar meminta supaya diceritakan, Abu Yazid pun berkata; "Pergilah kepada tukang gunting dan cukurlah janggutmu itu; buangkan pakaianmu itu kecuali seluar dalam sahaja. Ambil satu kampit penuh yang berisi "Siapa yang mahu menempeleng kuduk leherku dia akan mendapat buah ini" Kemudian dalam keadaan ini pergilah kepada Kadi dan ahli syariat dan berkata; "Berkatilah Ruhku".

Kata sahabatnya; "Tidak sanggup saya berbuat demikian, berilah saya cara yang lain".
Abu Yazid pun berkata; "Inilah sahaja caranya, tetapi seperti yang telah saya katakan kamu ini tidak dapat diubat lagi".
Sebab Abu Yazid berkata demikian kepada orang itu ialah kerana orang itu sebenarnya pencari pangkat dan kedudukan. Bercita-cita hendak pangkat dan kedudukan seperti bersikap sombong dan bangga adalah penyakit yang hanya dapat diubat dengan cara yang demikian itu.

Allah berfirman kepada Nabi 'Isa;
"Wahai 'Isa! Apabila Aku lihat dalam hati hambaKu cinta suci murni kepadaKu tanpa dicampur aduk dengan kepentingan diri sendiri terhadap perkara dunia atau akhirat, maka Aku menjadi Penjaga kepada Cinta itu".
Apabila orang bertanya kepada Nabi 'Isa; "Apakah kerja yang paling tinggi sekali darjatnya?" Beliau menjawab; "Mencintai Allah dan tunduk kepadaNya".
Suatu ketika orang bertanya kepada Wali Allah bernama Rabi'atul Adawiyah sama ada beliau cinta kepada Nabi M
uhammad S.A.W. Beliau menjawab; "Cinta kepada Allah menghalang aku cinta kepada makhluk".

Ibrahim bin Adham dalam doanya berkata; "Ya Allah! pada mataku syurga itu sendiri lebih kecil dari agas jika dibandingkan dengan Cintaku terhadapMu dan kelazatan mengingatiMu yang Engkau telah kurniakan kepadaku".
Siapa yang menganggap ada kemungkinan menikmati kebahagiaan di akhirat tanpa mencintai Allah adalah orang yang telah jauh sesat anggapannya, kerana segala-galanya di akhirat itu adalah kembali kepada Allah dan Allah itulah matlamat yang dituju dan dicapai setelah melalui halangan yang tidak terhingga banyaknya. Nikmat memandang Allah itu adalah kebahagiaan. Jika seseorang itu tidak suka kepada Allah di sini, maka di sana pun ia tidak suka juga kepada Allah. Jika sedikit sahaja sukanya kepada Allah di sini, maka sedikit jugalah sukanya kepada Allah di sana. Pendeknya, kebahagiaan kita di akhirat adalah bersesuaian dengan kadar Cintanya kita kepada Allah di dunia ini.

Sebaliknya jika dalam hati manusia itu ada tumbuh cinta kepada apa sahaja yang berlawanan dengan Allah, maka keadaan hidup di akhirat sana akan berlainan dan ganjil sekali kepadanya dan dengan ini apa sahaja yang mendatangkan kebahagiaan kepada orang lain, akan mendatangkan 'azab sengsara kepadanya. Mudah-mudahan Allah lindungi kita dari terjadi sedemikian itu.
Ini bolehlah kita gambarkan dengan misalan seperti berikut;

Seorang pengangkut sampat-sarap pergi ke kedai yang menjual minyak wangi. Apabila beliau membawa bau-bauan yang harum wangi itu, ia pun jatuh dan tidak sedar diri. Orang pun datang hendak memberi pertolongan kepadanya. Air Ros dipercikkan kemukanya dan dihidungnya diletakkan kasturi. Tetapi beliau bertambah teruk. Akhirnya datanglah seorang pengangkut sampah juga, lalu diletakkan sedikit sampah kotor di bawah hidung orang yang pengsan itu. Dengan segera orang itu pun sedar semula sambil berseru dengan rasa puas hati, "Wah! Inilah sebenarnya wangi!"

Demikian jugalah, ahli dunia tidak akan menjumpai lagi karat dan kotor dunia ini diakhirat. Kelazatan keruhaniah alam sana berlainan sekali dan tidak sesuai dengan kehendaknya. Maka ini menjadikannya bertambah teruk dan sengsara lagi. Kerana alam sana itu adalah alam ruhaniah dan penzhohiran Jamal (keindahan) Allah Subhanahuwa Taala. Berbahagialah mereka yang ingin mencapai kebahagiaan di sana itu dan menyesuaikan dirinya dengan alam itu. Semua sikap zahud, menahan diri ibadah, menuntut ilmu adalah bertujuan untuk mencapai penyesuaian itu dan penyesuaian itu adalah cintanya. Inilah maksud Al-Quran:

"Berbahagialah orang yang mencucikan jiwanya".
Dosa dan maksiat berlawanan benar dengan penyesuaian ini. Oleh itulah termaktub dalam Al-Quran: "Sesungguhnya rugilah orang yang mengotori jiwanya." Orang yang dikurniai dengan mata keruhanian telah nampak hakikat ini dalam rasa pengalaman mereka bukan hanya kata-kata yang diterima turun-menurun sejak dahulu lagi. Pandangan mereka itu membawa kepercayaan bahawa orang yang berkata demikian adalah sebenarnya Nabi; ibarat orang yang mengkaji ilmu perubatan; akan tahu adakah orang yang bercakap berkenaan perubatan itu sebenarnya doktor atau pun bukan. Ini adalah jenis keyakinan yang tidak perlu disokong dengan mukjizat atau perbuatan yang mencarik adat kerana yang demikian pun dapat dilakukan juga oleh tukang sihir atau tukang silap mata.

Bersambung dalam tajuk yang terakhir; TANDA-TANDA CINTA KEPADA ALLAH


Sabtu, 18 Februari 2012

Baca Tulis Qur'an (BTQ) Menurut IIM AL IMRON, S.Pd.I

Baca Tulis Qur'an (BTQ) Menurut IIM AL IMRON, S.Pd.I

     Baca Tulis Al Qur'an adalah ilmu pendidikan agama islam, dimana kajiannya konsentrasi dalam bidang penulisan dan baca Al Qur'an, senjata utamanya ialah ilmu Tajwid. ilmu ini termasuk bukan ilmu baru, melainkan satu kajian cabang dalam pengembangan diri ilmu agama islam
     Kaligrafi adalah salah satu contoh bentuk variatif dalam penggalian kreatifitas peserta didik.

 Adapun jenis-jenis pengetahuan yang dipelajari didalamya adalah:

1. Perluasan kajian surat-surat pilihan
2. Mengasah keterampilan dalam kaligrafi
3. Menguasai ilmu tajwid secara menyeluruh
4. Program pemberantasan buta Huruf Al qur'an
5. Melawan arus perkembangan dan teknologi, guna mengimbangi agar al qur'an menjadi bacaan yang prioritas, dalam kehidupan kita sehari- hari

Menjelajahi Alam Ghaib


Pembukaan hati ke alam ghaib




Pembukaan pintu hati terhadap ke Alam Ghaib ini berlaku juga dalam keadaan-keadaan yang hampir dengan Wahyu Kenabian, di mana Intuisi atau Wahyu atau Ilham terbit dalam fikiran tanpa di bawa melalui saluran-saluran deria(pancaindera) sebagaimana seseorang itu menyucikan dirinya dari pengaruh nafsu kebendaan dan menumpukan(konsentrasi) fikirannya kepada Allah. Maka semakin bertambah teranglah kesedarannya terhadap Intuisi atau Ilham sedemikian itu. Mereka yang tidak sedar tentang perkara ini tidak berhak menafikan hakikat tersebut.

Intuisi(Ilham) ini bukanlah terhad bagi mereka Kenabian sahaja. Ibarat besi, jika selalu digosok dan digilap akan menjadi berkilat seperti cermin. Begitu juga jiwa dan fikiran yang diasuh dengan disiplin sedemikian rupa akan dapat menerima khabaran dari Alam Ghaib itu. Sebab itulah Nabi Muhammad S.A.W. ada bersabda;
"Tiap-tiap kanak-kanak itu dilahirkan dalam keadaan Islam(fitrah), maka kemudian ibu-bapanyalah yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani atau Majusi"

Tiap-tiap manusia dalam kesedaran batinnya yang dalam itu pernah mendengar soalan;
Bukankah aku ini Tuhanmu?" dan mereka menjawab; "Ya", sebenarnya" tetapi sesetengah hati adalah ibarat cermin yang penuh berhabuk dan berkarat sehingga tidak memberi bayangan apa-apa di dalamnya. Tetapi hati Ambiya' dan Aulia' meskipun mereka itu manusia biasa yang mempunyai perasaan seperti kita, mereka sangat senang dan cepat menerima semua gambaran atau Ilham Ketuhanan Yang Maha Tinggi itu.

Bukanlah kerana Ilmu yang didapati dari Ilham atau Wahyu atau Intuisi itu sahaja yang menyebabkan Ruh manusia itu boleh menduduki martabat pertama atau paling tinggi di kalangan makhluk, tetapi juga oleh kerana kekuasaannya(Ruh). Sebagaimana Malaikat-malaikat menguasai atau memerintah unsur-unsur, maka begitu jugalah Ruh itu. Ia memerintah anggota-anggota badan. Ruh-ruh yang mencapai peringkat kekuasaan yang khusus bukan sahaja memerintah badan mereka sendiri tetapi juga badan-badan yang lain. Jika mereka hendakkan orang sakit supaya sembuh, maka sembuhlah ia, atau orang yang sihat boleh disakitinya; atau jika mereka inginkan seseorang supaya datang kepada mereka, maka datanglah orang itu. Oleh kerana kerja-kerja Ruh yang kuat ada dua macam; iaitu baik dan jahat, maka perbuatan mereka itu pun dibahagikan dua macam juga iaitu Mukjizat dan yang lagi satu Sihir.

Ruh-ruh yang kuat ini berbeza dari Ruh-ruh orang biasa dalam tiga perkara:
1. Apa yang orang lain dapat lihat secara mimpi dalam tidur, mereka lihat dalam jaga.
2. Orang lain hanya dapat menguasai badan mereka sendiri sahaja. Mereka ini dapat menguasai badan-badan yang lain dari diri mereka juga.
3. Ilmu orang lain dapat secara belajar dan mengkaji bersungguh-sungguh. Mereka ini dapat Ilmu itu secara Ilham atau Wahyu.
Bukanlah ini sahaja tanda yang membezakan mereka dari orang biasa. Ada lagi yang lain. Tetapi itulah sahaja yang kita ketahui. Sebagaimana juga kita ketahui iaitu Allah itu sahaja yang mengenal DiriNya Yang Sebenar-benarNya, begitu jugalah hanya Nabi-nabi itu juga yang mengenal Hakikat Kenabian itu sebenarnya. Ini tidaklah menghairankan. Sedangkan dalam kehidupan sehari-harian ini pun kita ada mengalami kesulitan untuk menerangkan keindahan sesuatu Syair atau Puisi kepada orang yang tidak tahu dan tidak faham tentang Syair dan Puisi; atau keindahan warna pada orang buta.

Di samping ketidakupayaan biasa itu, ada lain-lan lagi yang menghalang seseorang itu mencapai Hakikat Keruhanian. Satu daripadanya ialah Ilmu yang diperolehi dari luar. Sebagai ibarat, hati itu adalah sebuah telaga, dan lima deria ialah lima batang tali air yang sentiasa mengalirkan air ke telaga itu. Untuk mengetahui isi telaga itu sebenarnya, taliair itu hendaklah dihentikan mengalir ke dalam telaga itu untuk sementara waktu, dan sampah sarap yang di bawa oleh taliair itu hendaklah dibuang dari telaga itu. Demikianlah ibaratnya.

Sekiranya kita hendak mencapai Hakikat Keruhanian yang suci itu, maka kita hendaklah sementara waktu mengenepikan Ilmu yang diperolehi dari proses luar(iaitu yang datang dari luar seperti belajar, membaca dan sebagainya) yang mana selalunya telah menjadi beku dan keras dan bersifat Prasangka Y
ang Dokmatik(Doqmatic Prejudice).
Di samping itu ada pula satu kesilapan yang dilakukan oleh orang-orang yang singkat IlmuNya, iaitu setelah mereka mendengar percakapan orang-orang Sufi, mereka pun merendah-rendahkan taraf ilmu. Ini adalah ibarat seorang yang bukan ahli dalam bidang Ilmu Kimia mengatakan, "Kimia itu lebih baik dari emas!", dan ia enggan menerima apabila emas diberikan kepadanya. Kimia lebih baik dari emas, tetapi ahli-ahli Kimia yang sebenar-benar pakar sangat sedikit bilangannya. Begitu jugalah ahli-ahli Sufi yang pakar sebenarnya amat sedikit bilangannya.

Orang yang hanya tahu sedikit sahaja berkenaan Kesufian adalah tidak lebih tinggi martabatnya dari orang-orang yang berpengetahuan. Begitu juga orang yang baru mencuba beberapa percubaan dalam bidang Kimia, janganlah hendak merendah-rendahkan orang yang kaya.
Orang-orang yang melihat berkenaan hal ini tentu akan melihat betapa kebahagian itu adalah sebenarnya berkaitan dengan Mengenal Allah Subhanahuwa Taala. Tiap-tiap anggota kita ini suka dan seronok dengan untuk apa yang sebenarnya ia dijadikan. Misalnya hawa nafsu suka dengan apa yang dikehendakinya; marah suka hendak membalas dendam; mata suka dengan benda yang indah; telinga suka mendengar muzik yang merdu dan sebagainya. Fungsi(tugas) Ruh manusia yang paling tinggi ialah Menyaksi atau Melihat Hakikat, dan di sanalah ia mendapat keseronokan dan kesukaannya. Seorang itu amat gembira diberi jawatan Perdana Menteri, tetapi kegembiraan itu akan bertambah jika Raja berkawan baik dengannya dan menceritakan kepadanya rahsia-rahsia negeri.

Ahli Ilmu Falak(Astronomy) dengan ilmunya dapat membuat peta-peta bintang dan perjalanan falaknya, akan merasai lebih seronok dari ilmunya itu daripada pemain catur dengan ilmunya. Tidak ada yang lebih tinggi dari Allah Subhanahuwa Taala. Alangkah besarnya keseronokan dan kebahgiaan yang didapati oleh seseorang itu hasil dari Makrifat Allah.
Barangsiapa yang sudah hilang kemahuan untuk mencapaai Ilmu yang sedemikian tinggi itu, maka orang itu adalah ibarat orang yang telah seleranya untuk memakan makanan yang baik-baik; atau pun seperti orang yang lebih suka memakan tanah daripada memakan roti. Semua selera badan kasar ini hilang sirnanya apabila mati (bercerai nyawa dengan badan). Selera itu mati bersama badan kasar itu. Tetapi Ruh tidak mati dan ia tetap membawa apa juga Ilmu tentang Ketuhanan yang ada padanya, bahkan menambahkan Ilmu itu lagi.

Sebahagian penting berkenaan Ilmu kita tentang Allah adalah timbul dari kajian dan pemikiran kita tentang badan kita sendiri, yang membukakan kepada kita kekuasaan, kebijaksanaan dan Cinta Tuhan Yang Menjadikan segalanya. KekuasaanNya menunjukkan betapa setitik air dijadikan kita seorang manusia yang cukup lengkap. KebijaksanaanNya ditunjukkan dengan betapa rumit dan sulitnya anggota-anggota kita dan saling persesuaian antara bahagian-bahagian anggota itu antara satu dengan yang lain. CintaNya ditunjukkan dengan KurniaNya kepada kita bukan sahaja anggota-anggota yang paling perlu untuk hidup seperti jantung, hati, otak, tetapi juga anggota-anggota yang tidak paling perlu seperti tangan, kaki, lidah dan mata. Kemudian ditambah pula dengan perhiasan seperti hitam rambut, merahnya bibir, bulu mata yang melentik dan sebagainya.

Maka sewajarnyalah manusia itu diibaratkan sebagai " ALAM KECIL" dalam dirinya sendiri bentuk dan susunan badan itu hendak dikaji bukan sahaja oleh mereka yang hendak jadi doktor tetapi juga hendaklah dikaji oleh mereka yang ingin mencapai MakrifatuLlah sebagaimana juga mengkaji dengan mendalam tentang susunan keindahan bahasa dalam Puisi yang agung membukakan kepada kita makin lama makin banyak kebijaksanaan pengarangnya.
Bahawa Ilmu atau Mengenal Ruh itu memainkan peranan yang lebih penting untuk membawa kepada MakrifatuLlah; lebih penting dari mengenal badan dan tugas-tugasnya. Badan ini ibarat kuda tunggangan dan Ruh itu ibarat Penunggangnya. Badan itu dijadikan untuk Ruh, dan Ruh itu untuk badan. Jika seseorang itu tidak tahu dirinya yang mana adalah yang paling hampir dengan Dia, maka apakah gunanya ia mengenal yang lain? Ibarat pengemis; yang dirinya sendiri pun payah hendak makan berkata pula ia boleh memberi makan kepada penduduk sebuah pekan.

Dalam bab ini kita akan cuba sedikit-sebanyak membicarakan keagungan Ruh manusia. Orang yang tidak peduli kepada jiwa atau RuhNya dan membiarkan Ruh atau jiwa itu berkarat dan bergelap, maka rugilah ia di dunia dan di akhirat juga. Keagungan seseorang manusia itu sebenarnya terletak pada keupayaan untuk Maju yang kekal abadi. Jika tidak, dalam dunia fana ini, manusia itulah yang paling lemah dari segala makhluk kerana tertakluk kepada kepada lapar, dahaga, panas, sejuk dan dukacita.

Perkara yang paling ia suka selalunya paling bahaya kepadanya, dan perkara yang memberi faedah kepadanya itu tidak dapat diperolehi tanpa usaha dan susah payah. Berkenaan dengan Aqalnya pula, kesilapan yang sedikit saja pada otak boleh menyebabkan ia gila dan rosak. Berkenaan kekuasaan pula, gigitan nyamuk sahaja telah cukup menyebabkan ia resah gelisah dan tidak dapat tidur. Berkenaan dengan perasaan pula, dia rasa dukacita hanya dengan kehilangan beberapa sen wang. Berkenaan dengan kecantikan pula, dia tidak lebih dari perkara yang kotor dibalut dengan kulit yang licin lunak. Tanpa dibasuh selalu, ia menjadi Ain dan tidak menarik lagi.

Pada hakikatnya, manusia itu dalam dunia ini adalah sangat lemah dan hina. Hanya di akhirat kelak manusia itu akan bernilai dan berharga. Jika dengan cara "
Kimia Kebahagiaan" dia meningkat naik dari peringkat binatang kepada peringkat Malaikat. Kalau tidak, peringkat lebih hina dan rendah dari binatang yang akan hancur dan akan jadi tanah. Maka perlulah bagi manusia di samping sedar tentang ketinggian martabatnya dari semua makhluk, sedarlah hendaknya tentang lemah hinanya, kerana itu pun adalah satu daripada "anak kunci" membuka pintu Mengenal Allah (MakrifatuLlah).


Rahasia Roh dalam Badan


Tempat roh-roh dalam badan

       

Tempat roh manusia, roh kehidupan, di dalam badan ialah dada. Tempat ini berhubung dengan pancaindera dan deria-deria. Urusan atau bidangnya ialah agama. Pekerjaannya ialah mentaati perintah Allah. Dengan peraturan-peraturan yang ditentukan-Nya, Allah memelihara dunia nyata ini dengan teratur dan harmoni. Roh itu bertindak menurut kewajipan yang ditentukan oleh Allah, tidak menganggap perbuatannya sebagai perbuatannya sendiri kerana dia tidak berpisah dengan Allah. Perbuatannya daripada Allah; tidak ada perpisahan di antara ‘aku’ dengan Allah di dalam tindakan dan ketaatannya. “Barangsiapa percaya akan pertemuan Tuhannya hendaklah mengerjakan amal salih dan janganlah ia sekutukan sesuatu dalam ibadat kepada Tuhannya”. (Surah Kahfi, ayat 110).
 Allah adalah esa dan Dia mencintai yang bersatu dan satu. Dia mahu semua penyembahan dan semua amal kebaikan, yang Dia anggap sebagai pengabdian kepada-Nya, menjadi milik-Nya semata-mata, tidak dikongsikan dengan apa sahaja.  Jadi, seseorang tidak memerlukan kelulusan atau halangan daripada sesiapa pun di dalam pengabdiannya kepada Tuhannya, juga amalannya bukan untuk kepentingan duniawi. Semuanya semata-mata kerana Allah. Suasana yang dihasilkan oleh petunjuk Ilahi seperti menyaksikan bukit-bukti kewujudan Allah di dalam alam nyata ini; kenyataan sifat-sifat-Nya, kesatuan di dalam yang banyak, hakikat di sebalik yang nyata, kehampiran dengan Pencipta, semuanya adalah ganjaran bagi amalan kebaikan yang benar dan ketaatan tanpa mementingkan diri sendiri. Namun, semuanya itu di dalam taklukan alam benda, daripada bumi yang di bawah tapak kaki kita sehinggalah kepada langit-langit. Termasuk juga di dalam taklukan alam dunia ialah kekeramatan yang muncul melalui seseorang, misalnya berjalan di atas air, terbang di udara, berjalan dengan pantas, mendengar suara dan melihat gambaran dari tempat yang jauh atau boleh membaca fikiran yang tersembunyi. Sebagai ganjaran terhadap amalan yang baik manusia juga diberikan nikmati di akhirat seperti syurga, khadam-khadam, bidadari, susu, madu, arak dan lain-lain. Semuanya itu merupakan nikmati syurga tingkat pertama, syurga dunia.
Tempat ‘roh perpindahan atau roh peralihan’ ialah di dalam hati. Urusannya ialah pengetahuan tentang jalan kerohanian. Kerjanya berkait dengan empat nama-nama pertama bagi nama-nama Allah yang indah. Sebagaimana dua belas nama-nama yang lain empat nama tersebut tidak termasuk di dalam sempadan suara dan huruf. Jadi, ia tidak boleh disebut. Allah Yang Maha Tinggi berfirman: “Dan bagi Allah jualah nama-nama yang baik, jadi serulah Dia dengan nama-nama tersebut”. (Surah A’raaf, ayat 180).
Firman Allah di atas menunjukkan tugas utama manusia adalah mengetahui nama-nama Tuhan. Ini adalah pengetahuan batin seseorang. Jika mampu memperolehi pengetahuan yang demikian dia akan sampai kepada makam makrifat. Di samalah pengetahuan tentang nama keesaan sempurna.
Nabi s.a.w bersabda, “Allah Yang Maha Tinggi mempunyai sembilan puluh sembilan nama, sesiapa mempelajarinya akan masuk syurga”. Baginda s.a.w juga bersabda, “Pengetahuan adalah satu. Kemudian orang arif jadikannya seribu”. Ini bermakna nama kepunyaan Zat hanyalah satu. Ia memancar sebagai seribu sifat kepada orang yang menerimanya.
Dua belas nama-nama Ilahi berada di dalam lengkungan sumber pengakuan tauhid “La ilaha illa Llah”. Tiap satunya adalah satu daripada dua belas huruf dalam kalimah tersebut. Allah Yang Maha Tinggi mengurniakan nama masing-masing bagi setiap huruf di dalam perkembangan hati. Setiap satu daripada empat alam yang dilalui oleh roh terdapat tiga nama yang berlainan. Allah Yang Maha Tinggi dengan cara ini memegang erat hati para pencinta-Nya, dalam kasih sayang-Nya. Firman-Nya: “Allah tetapkan orang-orang yang beriman dengan perkataan yang tetap di Penghidupan dunia dan akhirat”. (Surah Ibrahim, ayat 27).
Kemudian dikurniakan kepada mereka kehampiran-Nya. Dia sediakan pokok keesaan di dalam hati mereka, pokok yang akarnya turun kepada tujuh lapis bumi dan Dahannya meninggi kepada tujuh lapis langit, bahkan meninggi lagi hingga ke arasy dan mungkin lebih tinggi lagi. Allah berfirman: “Tidakkah engkau perhatikan bagaimana Allah adakan misal, satu kalimah yang baik seperti pohon yang baik, pangkalnya tetap dan cabangnya ke langit. (Surah Ibrahim, ayat 24).
Tempat ‘roh perpindahan atau roh peralihan’ adalah di dalam nyawa kepada hati. Alam malaikat berterusan di dalam penyaksiannya. Ia boleh melihat syurga alam tersebut, penghuninya, cahayanya dan semua malaikat di dalamnya. Kalam ‘roh peralihan’ adalah bahasa alam batin, tanpa huruf tanpa suara. Perhatiannya berterusan menyentuh soal-soal rahsia-rahsia maksud yang tersembunyi. Tempatnya di akhirat apabila kembali ialah syurga Na’im, taman kegembiraan kurniaan Allah.
Tempat ‘roh sultan’ di mana ia memerintah, adalah di tengah-tengah hati, jantung kepada hati. Urusan roh ini ialah makrifat. Kerjanya ialah mengetahui semua pengetahuan ketuhanan yang menjadi perantaraan bagi semua ibadat yang sebenar-benarnya diucapkan dalam bahasa hati. Nabi s.a.w bersabda, “Ilmu ada dua bahagian. Satu pada lidah, yang membuktikan kewujudan Allah. Satu lagi di dalam hati. Inilah yang perlu bagi menyedarkan tujuan seseorang”. Ilmu yang sebenar-benarnya bermanfaat berada di dalam sempadan kegiatan hati. Nabi s.a.w bersabda, “Quran yang mulia mempunyai makna zahir dan makna batin”. Allah Yang Maha Tinggi membukakan Quran kepada sepuluh lapis makna yang tersembunyi. Setiap makna yang berikutnya lebih bermanfaat daripada yang sebelumnya kerana ia semakin hampir dengan sumber yang sebenarnya. Dua belas nama kepunyaan Zat Allah adalah umpama dua belas mata air yang memancar dari batu apabila Nabi Musa a.s menghentamkan batu itu dengan tongkatnya. “Dan (ingatlah) tatkala Musa mintakan air bagi kaumnya, maka Kami berkata, ‘Pukullah batu itu dengan tingkat kamu’. Lantas terpancar daripadanya dua belas mata air yang sesungguhnya setiap golongan itu mengetahui tempat minumnya”. (Surah Baqarah, ayat 60).
Pengetahuan zahir adalah umpama air hujan yang datang dan pergi sementara pengetahuan batin umpama mata air yang tidak pernah kering. “Dan satu tanda untuk mereka, ialah bumi yang mati (lalu) Kami hidupkannya dan Kami keluarkan daripadanya biji-bijian, lalu mereka memakannya”. (Surah Yaa Sin, ayat 33).
Allah jadikan satu bijian, sebiji benih di langit. Benih itu menjadi kekuatan kepada kehaiwanan di dalam diri manusia. Dijadikan-Nya juga sebiji benih di dalam alam roh-roh (alam al-anfus); menjadi sumber kekuatan, makanan roh. Bijian itu dijiruskan dengan air dari sumber hikmah. Nabi s.a.w bersabda, “Jika seseorang menghabiskan empat puluh hari dalam keikhlasan dan kesucian sumber hikmah akan memancar dari hatinya kepada lidahnya”.
Nikmat bagi ‘roh sultan ialah kelazatan dan kecintaan yang dinikmatinya dengan menyaksikan kenyataan keelokan, kesempurnaan dan kemurahan Allah Yang Maha Tinggi. Firman Allah: “Dia telah diajar oleh yang bersangatan kekuatannya, yang berupa bagus, lalu ia menjelma dengan sempurnanya padahal ia di pehak atas yang paling tinggi. Kemudian ia mendekati rapat (kepadanya), maka adalah (rapatnya) itu kadar dua busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu Ia wahyukan kepada hamba-Nya apa yang Ia mahu wahyukan. Hatinya tidak mendusta apa yang dia lihat”. (Surah Najmi, ayat 5 – 11).
Nabi s.a.w menggambarkan suasana demikian dengan cara lain, “Yang beriman (yang sejahtera) adalah cermin kepada yang beriman (yang sejahtera)”. Dalam ayat ini yang sejahtera yang pertama ialah hati orang yang beriman yang sempurna, sementara yang sejahtera kedua itu ialah yang memancar kepada hati orang yang beriman itu, tidak lain daripada Allah Yang Maha Tinggi sendiri. Allah menamakan Diri-Nya di dalam Quran sebagai Yang Mensejahterakan. “Dia jualah Allah yang tiada Tuhan melainkan Dia…Yang Mensejahterakan (Pemelihara iman), Pemelihara segala-galanya”. (Surah Hasyr, ayat 23).
Kediaman ‘roh sultan’ di akhirat ialah syurga Firdaus, syurga yang tinggi.
Setesen di mana roh-roh berhenti adalah tempat rahsia yang Allah buatkan untuk Diri-Nya di tengah-tengah hati, di mana Dia simpankan rahsia-Nya (Sirr) untuk disimpan dengan selamat. Keadaan roh ini diceritakan oleh Allah melalui pesuruh-Nya: “Insan adalah rahsia-Ku dan Aku rahsianya”.
Urusannya ialah kebenaran (hakikat) yang diperolehi dengan mencapai keesaan; mencapai keesaan itulah tuagsnya. Ia membawa yang banyak kepada kesatuan dengan cara terus menerus menyebut nama-nama keesaan di dalam bahasa rahsia yang suci. Ia bukan bahasa yang berbunyi di luar. “Dan jika engkau nyaringkan perkataan, maka Sesungguhnya Dia mengetahui rahsia dan yang lebih tersembunyi”. (Surah Ta Ha, ayat 7)
Hanya Allah mendengar bahasa roh suci dan hanya Allah mengetahui keadaannya.
Nikmat bagi roh ini ialah penyaksian terhadap ciptaan Allah yang pertama. Apa yang dilihatnya ialah keindahan Allah. Padanya terdapat penyaksian rahsia. Pandangan dan pendengaran menjadi satu. Tidak ada perbandingan dan tidak ada persamaan tentang apa yang disaksikanya. Dia menyaksikan sifat Allah, keperkasaan dan kekerasan-Nya sebagai esa dengan keindahan, kelembutan dan kemurahan-Nya.
Bila manusia temui matlamatnya, tempat kediamannya, bila dia temui akal asbab, pertimbangan keduniaannya yang memandunya selama ini akan tunduk kepada Perintahnya; hatinya akan rasa gentar bercampur hormat, lidahnya terkunci. Dia tidak berupaya menceritakan keadaan tersebut kerana Allah tidak menyerupai sesuatu.
Bila apa yang diperkatakan di sini sampai ke telinga orang yang berilmu, mula-mula cubalah memahami tahap pengetahuan sendiri. Tumpukan perhatian kepada kebenaran (hakikat) mengenai perkara-perkara yang sudah diketahui sebelum mendongak ke ufuk yang lebih tinggi, sebelum mencari peringkat baharu, semoga mereka memperolehi pengetahuan tentang kehalusan perlaksanaan Ilahi. Semoga mereka tidak menafikan apa yang sudah diperkatakan, tetapi sebaliknya mereka mencari makrifat, kebijaksanaan untuk mencapai keesaan. Itulah yang sangat diperlukan.